Merdeka45 News| KARAWANG - Masa kedinasan boleh berakhir, namun ikatan persaudaraan dan nilai pengabdian tetap terjaga. Semangat tersebut terasa dalam Temu Kangen Purna Bhakti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Karawang yang digelar Jumat (18/9/2026).

Pertemuan bertajuk “Pengabdian Tak Pernah Purna” itu mempertemukan kembali para senior yang pernah mengabdikan diri di lingkungan Lapas Karawang.

Bukan sekadar reuni, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengenang perjalanan panjang institusi sekaligus menjaga hubungan kekeluargaan yang telah terbangun selama puluhan tahun.

Suasana hangat terlihat ketika para purna bhakti saling bertukar cerita mengenai pengalaman semasa bertugas. Kenangan tentang kebersamaan, tantangan pekerjaan hingga perubahan Lapas Karawang dari masa ke masa kembali menjadi bagian dari perbincangan.

Ketua Ikatan Purnabakti Lapas Kelas IIA Karawang, Khadarisman Dwiyana, mengatakan para purna bhakti tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjalanan Lapas Karawang.

“Para purna bhakti merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Lapas Karawang. Apa yang ada dan terus berkembang hari ini tentu tidak lepas dari pengabdian para senior yang telah lebih dahulu memberikan tenaga, pikiran, dan waktunya bagi institusi,” ujar Khadarisman.

Menurutnya, hubungan antara para senior dengan generasi yang masih aktif bertugas perlu terus dipelihara. Pengalaman yang dimiliki para purna bhakti dinilai dapat menjadi bagian dari pembelajaran bagi generasi penerus.

“Kami berharap silaturahmi seperti ini terus terjaga. Walaupun secara kedinasan mereka telah purna, pengalaman dan nilai-nilai positif selama bertugas tetap dapat menjadi pembelajaran bagi generasi yang sekarang melanjutkan pengabdian di Lapas Karawang,” katanya.

Ia menambahkan, tema “Pengabdian Tak Pernah Purna” menggambarkan bahwa berakhirnya masa kerja tidak serta-merta menghilangkan hubungan emosional dengan institusi.

“Pintu silaturahmi harus tetap terbuka. Para senior adalah bagian dari keluarga besar Lapas Karawang. Semoga kebersamaan ini terus terpelihara dan menjadi tradisi yang baik ke depan,” ungkapnya.

Kalapas: Senior Bagian dari Sejarah Institusi

Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Ma'ruf Prasetyo Hadianto, mengapresiasi terselenggaranya pertemuan tersebut. Ia menilai keberadaan para purna bhakti mempunyai arti penting karena menjadi bagian dari perjalanan panjang pemasyarakatan di Karawang.

Menurut Ma'ruf, pergantian generasi dan kepemimpinan merupakan hal yang wajar dalam sebuah organisasi. Namun, nilai-nilai positif yang diwariskan para pendahulu harus tetap dijaga.

“Generasi boleh berganti dan zaman terus berkembang, tetapi nilai integritas, tanggung jawab, kebersamaan, serta pengabdian kepada masyarakat harus tetap menjadi pegangan. Karena itu, pengalaman para senior merupakan bagian penting dari perjalanan Lapas Karawang,” katanya.

Ma'ruf berharap komunikasi dan silaturahmi dengan para purna bhakti tidak terputus setelah mereka menyelesaikan masa kedinasan.

“Lapas Karawang bukan hanya dibangun oleh mereka yang bertugas hari ini, tetapi juga oleh para pendahulu yang telah mengabdi pada masanya. Karena itu, kami menghormati pengabdian para senior dan berharap hubungan kekeluargaan ini tetap terpelihara,” ujarnya.

Kenangan Keluarga Pegawai Lapas Sejak 1986

Temu kangen tersebut juga memiliki makna tersendiri bagi Raden Yoppy Suryo Prayugo, S.H. Ayahnya merupakan salah seorang pegawai yang pernah menjadi bagian dari perjalanan awal Lapas Karawang.

Menurut Yoppy, almarhum ayahnya telah mengabdi sejak 1986, ketika Lapas Karawang saat itu bahkan belum dihuni warga binaan. Sang ayah kemudian menyelesaikan masa tugasnya hingga pensiun dan kini telah meninggal dunia.

“Bagi saya, kegiatan seperti ini mempunyai makna tersendiri. Almarhum orang tua saya pernah menjadi bagian dari keluarga besar Lapas Karawang. Walaupun beliau sudah tiada, ikatan kekeluargaan dan kenangan selama pengabdiannya tetap hidup dalam keluarga kami,” tutur Yoppy.

Ia memandang temu kangen purna bhakti tidak hanya penting bagi mereka yang pernah bekerja bersama, tetapi juga memiliki nilai sejarah bagi keluarga dan generasi berikutnya.

“Purna tugas bukan berarti purna pengabdian. Pengalaman, keteladanan, dan nilai-nilai yang ditanamkan para senior tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Bagi kami sebagai anak-anak mereka, ada kebanggaan tersendiri melihat silaturahmi ini masih terus dijaga,” ujarnya.

Yoppy berharap keluarga para purna bhakti yang telah meninggal dunia juga tetap dirangkul dalam kegiatan-kegiatan serupa.

“Ada rekan-rekan almarhum orang tua kami yang mungkin masih mengingat perjalanan mereka ketika sama-sama bertugas. Silaturahmi seperti inilah yang perlu dipertahankan, sehingga sejarah pengabdian para pendahulu tidak begitu saja terputus,” katanya.

Temu kangen ditutup dengan kebersamaan dan foto bersama para purna bhakti. Pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan kedinasan memang memiliki batas waktu, tetapi persaudaraan, keteladanan dan jejak pengabdian dapat terus hidup melampaui masa purnatugas.

Zey/Pay